Oleh: sucihida | Desember 11, 2008

Pandangan Tentang Sekolahku

Ini adalah cerita tentang diskusi ringan seputar dunia anak dengan teman lamaku. Kemarin ada dua tamu berkunjung ke rumahku. Pertama adalah seorang mahasiswa UM jurusan Pendidikan Fisika semester 9 yang sedang mengvalidasi instrumen soal yang akan digunakan sebagai bahan penelitian skripsinya. Yang kedua adalah teman lama yang kebetulan sering kontak denganku karena Dia pulang kampung dan menjadi guru les privat.

Cerita punya cerita ternyata banyak dari muridku yang diberinya les privat. Dari situ banyak sekali yang Dia tanyakan, yang lebih menarik karena ada beberapa anggapan dan paradigma yang salah terhadap model pendidikan di sekolahku. Aku sadar tidak mudah menjalani dan menjelaskan hal baru didunia pendidikan, apalagi kalau lingkungan sekitarku masih menggunakan cara konvensional dalam proses pembelajarannya.

Ada dua pertanyaan yang keduanya bisa kujawab dengan memberi contoh dan bukti nyata.

1. Mengapa di T.K Bani hasyim tidak diajari atau ditekankan CALISTUNG?

JawabKu

Sederhana karena yang ditekankan adalah pengenalan huruf dan angka dengan bermain. Taman Kanak-kanak; mengapa disebut taman? karena disitu anak tidak dipaksa belajar, tapi bagaimana dunia anak itu menyenangkan. Anak tidak dibiarkan tidak tahu tapi Guru dan Orang tua harus bisa memberi stimulan pada minat anak itu sendiri. Yang kucontohkan adalah Aal buah hatiku yang ada dikelas B. Hampir setiap hari suamiku mengajak belajar, tapi dia lebih tertarik belajar hitungan karena dianggapnya lebih mudah. Tapi stimulan agar dia mau menghafal huruf menulis suku kata tetap kita berikan dan sekali lagi bukan paksaan. Yang satu kisah dari anak temanku yang kebetulan sekelas dengan Aal. Suatu hari Dia tertarik dengan kisah Naruto, sampai-sampai Dia ingin sekali membeli komeknya. Sang ibu tidak begitu risau ketika sang anak belum minat untuk belajar membaca, tapi kesempatan ini bisa dijadikan ibu untuk menstimulan keinginan dalam belajar membaca. Sang ibu cuma berkata ” Kakak mau beli komek? boleh aja? tapi kakak kan belum bisa baca? masa mama yang suruh bacain kan gak seru dong? lebih asyik kalau kakak baca sendiri karena bisa tahu ceritanya yang asyik. Perkataan itu ternyata dapat respon positif, dengan antusias dan  sang kakak ingin belajar membaca.

Adakalanya kita salah mengartikan kata” mau” dan “ingin” dari Sang anak. Ketika kita memberi tawaran atau ajakan pada sang anak cuma ada 2 kemungkinan, mau dan tidak, tatapi mau sendiri ada 2 kemungkinan juga mau dengan senang hati dan mau karena terpaksa. Sebaliknya jika sang anak ingin sesuatu maka tawaran itu ada pada diri kita “memberi/mengajak” atau ogah. Usia anak-anak bukan usia paksaan tapi usia bermain dan mengarahkan keinginan mereka.

2. Mengapa anak SD Bani Hasyim kurang cepat menghafal?

JawabKu

Ya… menghafal, mengapa kita harus selalu menghafal. Menghafal rumus, menghafal peristiwa dan tanggal suatu kejadian. Ini adalah salah satu hal yang menjadikan sejarah tidak menarik lagi bagi murid. Mengapa harus tanggal dan peristiwa? bukan cerita atau kejadian dibalik peristiwa? Mengapa harus rumus yang dihafal, bukan konsep dan penemuan rumus yang diutamakan? Jawabnya singkat! karena keduanya lebih butuh waktu singkat ketika disampaikan didalam kelas. Sedangkan penanaman konsep dan cerita dibalik peristiwa butuh waktu dan pengetahuan yang lengkap. Itu adalah tantangan bagi Guru. Tapi saya yakin bahwa pola pikir anak yang mengamati dan menekankan konsep akan berbeda dengan anak yang hanya disuruh menghafal dan mengingat. Menghafal boleh tapi tidak semuanya harus dihafalkan. Karena menurut kami “Mengetahui asal, lebih berarti dari pada diberi pengetahuan yang  langsung jadi”

JawabanKu adalah pengalamanku dan dua pertanyaan itu akan jadi inspirasi serta semangat memajukan anak didikKu.

Trimakasih Sobat, kamu sudah mau terbuka untuk bertanya dan diskusi denganKu. Semoga kita berdua bisa lebih memajukan dunia pendidikan ini berawal dari murid-murid kita sendiri


Responses

  1. Jadi ingat waktu ikut seminar Teori Behaviouristik VS Teori Konstruktivistik 10 tahun lalu.

    Siapa pemenangnya hayo ?

    salam dunia pendidikan

    Lama ya…. 10 th yang lalu, tapi sampai sekarang masih ada yang belum memahami kedua teori itu. Siapa ya yang menang….? kan bukan kompetisi/ lomba?. Teori mana yang paling diminati dan mampu menjadikan pengetahuan lebih lama bertahan/ terekam di otak kita, mungkin itu lebih pas menurut saya. Meskipun setiap teori punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

  2. setuju bu, anak2 Tk harusnya dibiarkan mengeksploitasi kreativitas sesuai kecerdasan dan kemampuannya. ntar kalau gedean dikit pasti bisa cepat calistungnya.

    karena guru2 di SD seringkali masih menerapkan konsep hafalan terhadap eksakta, guru2 di SMA punya beban lebih berat untuk mengajak anak mulai mengasah kemampuan analisisnya

    Tapi sayang, masih banyak orang tua yang kurang memahami hal itu. Semoga ada peningkatan dan perbaikan di dunia pendidikanKU

  3. Trimkasih lho mbak suchida …. hebat pengalaman di dunia pendidikan anak sejak dini… ini betul-betul seorang ibu yg jd home teaching begitu juga guru di sekolah. Memang ini sulit lho kalau kita tidak ngerti bisa-bisa salah didik anak.

    saya sangat setuju sekali kalau anak-anak usia TK memang diberi kebebasan untuk mengeksploitasi kreativitas & kemampuan yang dimiliki, tapi tetap harus dipantau/arahkan/dibimbingnya.

    Mbak sucihida… kalau dari pengalaman anda apakah kurikulum yang dibuat sendiri oleh guru&sesuai dengan kondisi sekolah tersebut, ini sudah cocok atau bagaimana ya?

  4. you are welcome, mudah-mudahan saya bisa berbagi ilmu dengan teman-teman yang mau singgah di blog saya. Kurikulum yang dibuat selain melihat kurikulum Nasional juga membuat kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan pembelajaran. Kemarin saya baru dapat ilmu baru dari seminar yang saya ikuti. Ini disampaikan oleh guru besar UIN Malang.” Kalau pembelajaran itu menyenangkan dan kurikulum yang kita buat tidak memberatkan maka peserta didik akan mudah untuk mentransfer ilmu yang diberikan. Sebaliknya jika dalam mengajar kita cenderung mendoktrin dan memberikan/ menjejali maka peserta didik akan mudah ingat secepat itu juga akan mudah lupa.

  5. Trimkasih…. Kalau boleh tlg dongg…. makalah seminar ttg pembelajaran di kirim ya.
    selamat menunaikan tugas sebagai guru teladan baik di rumah, sekolah maupun di masyarakat umum.

    Trim’s kembali mudah-mudahan bisa saya muat tapi untuk minggu ini sepertinya belum sempat karna masih banyak kegiatan yang super sibuk. Sabar ya…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: