Oleh: sucihida | Februari 15, 2008

Kisah-1(Mengapa aku dikatakan BODOH)

Semua manusia sebenarnya memiliki Nur Allah didalam dirinya. Hanya saja kesalahan dalam sitem pendidika, sosial, budaya dan lingkungan telah menciptakan hijab-hijab yang menutupi cahaya ketuhanan tersebut. Pendidikan harusnya berperan mencabut hijab-hijab yang mengotori hati tersebut.

Sering kali kita mendengar seorang guru atau orang tua yang mengecap seorang anak bodoh. Perkataan itu mudah terucap semudah membalik telapak tangan. Mengapa Si Bodoh seringkali dibenci dan dikucilkan oleh lingkungan? Siapa sebenarnya yang mereka anggap bodoh itu? tepatkah julukan itu tertuju pada mereka?

Anak dikatakan bodoh apabila kurang minat dalam belajar akademik, serimg gaduh, malas, bertanya yang nyleneh-nyleneh, ramai dan tidak taat pada aturan. Biasanya seringkali diikuti dengan nilai akademik yang relatif rendah. Sebalinya anak dikatakan pandai atau pintar jika nilai akademiknya bagus khususnya nilai pelajaran IPA dan matematika, berjalan sesuai aturan, diam dan sering mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan pada mereka. Tapi pernahkah para penjuluk anak bodoh berpikir?

Amin memiliki nilai matematika dan IPA dengan rata-rata 4 namun dia mahir memainkan gitar dan pianika, sedangkan Soni memiliki nilai matematika dan IPA dengan rata-rata 8,5 tapi dia tidak bisa memegang apalagi memainkan gitar dengan baik. Saya yakin pasti guru menilai Amin adalah anak yang bodoh dan Soni anak yang pandai. Karena ukuran pandai dan bodoh hanya berorientasi pada niali akademik dan nilai IQ saja. Padahal menurut saya jika dilihat dari 2 sisi yang berbeda bisa dikatakan keduanya anak yang pandai. Hanya saja kepandaian yang dimiliki/ kompetensi yang ada dalam diri masing-masing anak berbeda.

“Di Indonesia ini ada 4 orang Rudi yang cerdas dan pandai (1). Rudi B.J Habibi yang ahli dalam rancang bangun pesawat, (2). Rudi Hartono yang mahir dalam bermain bulu tangkis, (3). Rudi Khairuddin yang ahli dalam membuat resep masakan dan (4). Rudi Hadisuwarno yang ahli dalam tata rias” unggkap Kak Seto selaku pemerhati pendidikan anak. Jika para orang tua dan guru tahu bahwa setiap anak adalah unik dan pandai maka mereka akan merasa malu saat mengecap seorang anak dengan sebutan Si Bodoh.

Yang paling penting bagi para pendidik saat ini bagaimana cara kita melakukan pendekatan personal pada si anak yang dianggap bodoh atau jika lebih beruntung si anak disebut bermasalah agar belajar itu menjadi asyik dan bermakna bagi mereka. Memandaikan satu dua anak pandai sudah biasa, tapi memandaikan anak yang dianggap bermasalah meskipun satu anak begitu berat. Mudah-mudahan kita adalah pengajar dan pendidik yang peduli dan adil pada semua anak didik kita. Tidak ada kata pandai dan tidak ada kata bodoh karena semua anak pada dasarnya adalah Fitrah.

putri.jpg


Responses

  1. Sebenarnya, kalau menurut saya, ini semua terjadi di belahan timur dunia saja, dimana seseorang mengecap orang lain dengan sebutan “bodoh” karena orang tersebut tidak mahir dalam iptek, apalagi matematika. Satu tahun lalu saya baru menyelesaikan pendidikan S1 saya di Amerika dan jurusan yang saya ambil tidak berhubungan dengan iptek atau metematika. Beberapa kawan dari Asia mengecap saya bodoh karena saya tidak mengambil jurusan di iptek atau matematika. Padahal, meski saya mengambil jurusan bahasa, saya masih tertarik dengan iptek dan matematika. Buktinya, saya sekarang mendalami informatika dan sedang mempelajari Java. Hanya saja kemajuannya agak lambat karena itu bukan bidang saya. Sementara, kawan-kawan saya dari negara lain, juga termasuk dari Amerika, menilai saya orang yang mahir dan berbakat karena mampu mengerjakan sesuatu yang dinilai sulit oleh orang lain. Kenapa orang Timur selalu melihat sisi jeleknya saja? Masih banyak contoh lain. Dari yang saya ketahui dan pelajari, kebanyakan orang Asia Amerika menginginkan anaknya untuk mendalami iptek atau matematika. Tetapi, ada juga sebagian yang ingin anaknya mendalami musik atau yang lainnya. Bagaimanapun juga, kebanyakan hanya terfokus pada iptek atau matematika, karena menurut mereka kedua bidang ini akan membawa seseorang ke kehidupan yang lebih baik dimasa datang. Belum tentu!

    Sangat salah sekali bila seorang guru lebih menyayangi seorang murid saja hanya karena murid itu bagus di iptek atau matematika. Padahal, seperti yang disebutkan secara tidak langsung oleh saudari, kemahiran atau kepandaian seseorang, sebenarnya bukan diukur melalui kepandaiannya di iptek atau matematika, tapi juga dari kemahiran atau kepandaian lainnya. Empat orang Rudi yang saudari sebutkan memang contoh nyata. Sayangnya, khususnya untuk Rudi Khairudin dan Rudi Hadisuwarno, kemahiran atau kepandaian mereka dinilai atas dasar ketenaran mereka, yaitu sebagai selebriti.

    Apakah kedua Rudi ini akan dianggap mahir atau pandai misalnya mereka masih di bangku SD, SMP atau SMU, katakanlah mereka kurang mahir dalam iptek dan matematika? Sebagian mungkin menganggap “iya” tapi kebanyakan pasti bilang “tidak.” Jadi, popularitas kedua Rudi ini yang mengangkat status dia (Saya akui keduanya mahir dan pandai), tapi skenario yang saya sebutkan misalnya kedua Rudi ini masih di bangku sekolah memang nyata.

    Saya suka pemikiran seseorang yang menilai orang lain “pandai” atau “bodoh” bukan atas dasar kemampuan seseorang di bidang iptek atau matematika. Sayangnya, masih banyak orang yang menilai salah.

    Terima kasih banyak atas pengalaman dan pendapat anda, salam kenal dari saya. Mudah-mudahan pandangan banyak guru dan orang tua yang masih mengutamakan nilai Intelgensi dan nilai akademik sebagai satu-satunya sumber keberhasilan anak akan berkembang dan bergeser. Tentu dengan banyak belajar dan membaca.

  2. Sama-sama. Salam kenal juga. Memang, ironisnya, kebanyakan tenaga pengajar dimana pun, bukan di Indonesia saja, masih memiliki pemikiran sempit. Mereka selalu sibuk dengan satu hal saja, yaitu bidang yang mereka jalani, tetapi tidak pernah mau mempelajari hal yang baru atau yang lain. Di Amerika dan Eropa pun seperti itu, misalnya, pendapat salah kebanyakan guru tentang Islam. Mereka sebarkan propaganda jelek tentang Islam dan sayangnya kebanyakan murid mereka mempercayainya. Jadi, semua ini kesalahan gurunya.

    Berbalik ke topik “bodoh.” Bayangkan kalau seorang guru mencap seorang murid “bodoh” secara terbuka dan murid yang lain tau. Apakah ini bukan sesuatu yang jelek untuk semuanya? Peer pressure terbukti selalu berakibat jelek. Anak yang dicap bodoh bisa selalu minder dan kurang percaya diri hingga akhir hayatnya (Contohnya saya).

    Sampai sekarang, sulit bagi saya untuk membangun rasa percaya diri karena saya selalu dihantui dengan celaan, hinaan, ledekan, ejekan dan cercaan yang diterima sewaktu masih di Indonesia dulu.

    Salut buat anda, jangan khawatir mungkin anak-anak yang dianggap bodoh oleh guru atau orang lain akan termotivasi jika ada pendekatan secara personal. Saya punya motto memandaikan anak yang dianggap pandai sudah biasa, tapi memandaikan anak-anak yang dianggap bodoh itu lebih luar biasa. Sudah saatnya mereka yang merasa menjadi pendidik mencari cara agar anak-anak yang dianggap bodoh itu istimewa dan mampu bersaing dengan mereka yang dianggap pandai. Oh ya… mungkin orang indonesia yang dulu menganggap anda anak bodoh sekarang justru merasa malu dan berdosa. Karena yang sebenarnya mereka cerca dan remehkan adalah fitrah yang ada pada diri anda yang telah diberikan oleh Tuhan.

  3. ada temen yang tidak beruntung karena hampir tiap guru mengatainya bodoh. untungnya dia tough. di kemudian hari dia cukup sukses dalam hidupnya, bahkan menjadi pejabat di tingkat lokal, daerah yg membawahi sekolah tempat ia dibodohi.

  4. Oke, tentu masih banyak kejadian nyata yang akan membuktikan bahwa tidak semua anak yang dianggap bodoh tidak sukses.

  5. Maaf ini nggak nyambung dengan topik diatas, Saya hanya bisa berkata you hebat, sampai sekarang aku masih bingung nih, gimana desainnya, sorry. oh ya sekali lagi selamat kehamilannya semoga rahmat, hidayah serta barokah selalu menyertai Ibu

    Yah….. trim’s atas doanya, mudah-mudahan lancar. Belajar harus sabar dan pelan-pelan oke! tetap semangat! Pasti bisa

  6. aku adalah seorang murid smu yang selalu mendapat cercaan dan hinaan dari berbagai guru…awalnya saya mencoba mempelajari ilmu akademik dengan sekuat pemikiran saya. namun hasil yang saya dapat masih sangat kurang. ditambah lagi kalau ang mahir sebenarnya saya sangat tidak menyukai ilmu exact.
    namun saya tau kalau saya mempunyai sesuatu yang sangat lebih dari orang lain. tapi tak seorangpun menganggap itu hal penting…………

    aku harap aku bukanlah sampah di masa depan!

  7. Biarlah orang memandang sebelah mata, tapi kita buktikan bahwa kita bisa sukses karena memang kita punya apa yang tidak mereka punya.

    Selamat berjuang dan tetap maju

  8. Kalau orang Islam yang nggak mau shalat bodoh nggak?

  9. kenapa aku bodoh sedangkan kakak dan adiku pintar mereka selalu menjadi juara kelas sedangkan aku samasekali belum pernah masuk 20 besar juga susah.rasanya allah tidak adil kepada saya dan kenapa saya hidup saya sangat ingin mati dari pada hidup di dunia dg penuh ketidak adilan tuhan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: