Oleh: sucihida | Februari 5, 2008

Silih Berganti Kurikulum Pendidikan KU

Di awal kemerdekaan bangsa Indonesia Kurikulum pendidikan yang digunakan disebut sebagai leer plan (Rencana Pelajaran).

Kurikulum ini merupakan perubahan kisi-kisi pendidikan dari orientsi Belanda ke kepentingan Nasional. Kurikulum ini baru dilaksanakan oleh sekolah-sekolah pada tahun 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok yaitu: daftar pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar pengajarannya.

Kurikulum ini yang lebih populer dengan Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang lebih mengutamakan pada pendidikan watak, kesadaran bernegara dan masyarakat yang dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, serta perhatian terhadap kesenian dan kesehatan jasmani.

Rencana Pelajaran Terurai 1952

Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebit Rencana Pelajaran Terurai 1952. Silabus mata pelajaran jelas sekali. Seorang guru mata pelajaran hanya mengajar satu pelajaran.

Dipenghujung era kekuasaan Soekarno, muncul rencana Pendidikan 1964 atau kurikulum 1964, yang berfokus pada daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral (pancawardhana). Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis. Cara belajarnya disebut metode gotong royong terpimpin. Pemerintah pada saat itu menetapkan hari sabtu sebagai hari Krida. Yang artinya pada hari itu siswa diberi kebebasan berlatih kegiatan dibidang kebudayaan, kesenian, olahraga dan permainan.

Kurikulum 1968

Bergulirnya kurikulum 1968 lebih bersifat politis. Tujuannya lebih dari upaya mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuan yang digaungkan adalah pembentukan manusia Pancasila sejati.

Kurikulum ini hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja. Katanya muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengkaitkan dengan permasalahan faktual dilapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa disetiap jenjang pendidikan.

Metode pembelajarannya banyak dipengaruhi teori psikologi unsur. Penerapan metode eja pada pelajaran bahasa Indonesia, anak juga harus belajar melalui unsur- unsur lebih dahulu. Metode ini menjadi bertolak belakang ketika pemerintah menganalkan matematika modern 1971. Padahal guru hanya menguasai ilmu hitung, kekacauan dimulai dari sini.

Kurikulum 1975

Kurikulum ini menekankan pada tujuan, maksudnya agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Metode, materi dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal dengan istilah ” Satuan Pelajaran”. Setiap pelajaran dijabarkan kedalam ” Tujuan Kurikuler”. Setiap pokok bahasan mata pelajaran diurai menjadi ” Tujuan Instruksional Umum”. Kemudian dari pokok bahsan ini dijabarkan kedalam satu bahasan yang melahirkan sejumlah tujuan instruksional khusus.

Kurikulum ini banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dan setiap kegiatan pembelajaran. Saat itu pendidikan praktis terjebak dalam hirarki tujuan.

Kurikulum 1984

Kurikulum ini mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendidikan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini sering juga disebut kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatka sebagai subyek belajar. Yang terkenal dengan metode CBSA.

Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya disekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Dan mulailah penolakan CBSA diberbagai lembaga pendidikan.

Kurikulum 1994 dan SUPLEMEN Kurikulum 1999

Kurikulum ini berupaya memadukan kurikulum-kurikulum yang sebelunya.”Jiwanya ingin mengkombinasikan antara kurikulum 1975 dan kurikulum 1984, antara pendekatan tujuan dan pendekatan proses”. Sayang ramuan tujuan dan proses itu belum juga caspleng.

Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum yang super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran suplemen kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.

Kurikulum 2004

Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayang kerancuan muncul saat dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa. Belum lagi mantap sudah ada kebijakan baru untuk beralih ke model KTSP.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 

Kurikulum ini dibuat agar sekolah mampu memanfaatkan serta memberdayakan keunggulan pontensi yang dimiliki oleh tiap-tiap wilayah dilingkungan sekolah tersebut .

Setiap sekolah boleh mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi lingkungan atau potensi wilayah, dan muncul harapan agar siswa mampu mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan daerah/ lingkungannya. Namun hal itu juga bertolak belakang ketika standart kelulusan siswa ditentukan oleh hasil UAN yang notabeni  erat kaitannya dengan kurikulum hasil godokan pemerintah sendiri.

Sumber: PENA PENDIDIKAN 2007


Responses

  1. sip…sejarah kurikulumnya mantap…yang KTSP didetilkan dong…biar kita pada ngerti…bahwa setiap sekolah tidak perlu tergantung pada ujian bersama yang mirip “penindasan pendidikan” … hehehe😀
    dengan KTSP apakah memang ujian akhir semester perlu ikut ujian diknas kabupaten atau kalo akhir jenjang sekolah memerlukan ujian nasional? kalo pun perlu, tetapi bahannya yang memang lebih universal sifatnya, bukan hafalan atau gampangnya soal yang muncul tidak “terkooptasi” kepentingan penerbit atau lembaga belajar tertentu, apalagi ada kepentingan lain-lain…betul gak ya?
    tapi yang penting di sini…bu suci tulisannya sip banget…kasih 5 jempol………..

  2. Wah…. jadi besar kepala nih, jempol 5 itu jempol siapa saja pak? bukannya tiap orang cuma punya 4 jempol he… he….
    Emang sih mau ditambah lagi kemarin terburu-buru mudah-mudahan bisa menambah wawasan para penggemar blog yang mau singgah di blog saya. Terima kasih banyak atas suportnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: