Oleh: sucihida | Januari 30, 2008

Beban Siswa terlalu Berat

Saat ini banyak sekolah yang dikatakan favorit dan unggul bagi orang tua siswa, tetapi tidak unggul bagi si anak. Pernahkah para orang tua memberi pilihan kepada anak ingin bersekolah dimana yang ia sukai?

Yang ironis justru sekolah memiliki nilai UAN dan tingkat kelulusan siswanya tinggi itulah yang dianggap favorit atau unggul. Padahal tidak semua anak yang lulus UAN bisa dan dijamin pandai. Sebaliknya tidak semua anak yang tidak lulus dari UAN dikatakan dan dinggap bodoh.

Sebuah contoh, beban yang diberikan kepada siswa kelas 1 SD yang dikatakan favorit di ibu kota, Setiap hari siswa kelas 1 diberi 4-5 mata pelajaran dan disetiap mata pelajaran ada 3-4 buku yang harus disediakan sebagai penunjang. Jadi hampir setiap hari siswa itu membawa 12-15 buku untuk belajar disekolah.

Seandainya para orang tua tahu, bahwa standart jam belajar siswa SD menurut UNESCO hanya 800 jam /tahun atau rata-rata 16-17jam /minggu, mungkin mereka akan merasa kasihan pada perkembangan Psikologis anak-anaknya yang terlalu berat.

Dari beberapa buku yang pernah saya baca, perkembangan kecerdasan anak terbagi menjadi 3 fase yaitu: saat usia anak 0-4 th mencapai 50%, saat usia 4-8th mencapai 80% dan saat usia anak berusia 8-17 th mencapai 100%. Selain itu menurut Seto Mulyadi dalam seminar dan loka karya ” Artikulasi Transisi Pendidikan TK dan SD kelas Awal” berpendapat bahwa, pangkal kegagalan anak dikelas awal SD satu diantaranya karena orang tua, guru dan pengelola pendidikan yang menganggap anak sebagai orang dewasa mini.

kakseto.jpg

Beban sekolah dan tekanan orang tua agar anak nilainya bagus terlalu berat. Anak diperlakukan seperti remote control. Sehingga anak kehilangan masa kanak-kanak dan masa bermainnya yang sejatinya sangat dibutuhkan oleh anak. Menurut Kak Seto, pelajaran berhitung ditingkat anak usia dini tidak salah, namun bukan soal berhitung tapi dengan bernyanyi dan bermain. Melalui nyanyian anak dikenalkan angka. Lantas anak diminta menggambar benda sejumlah angka yang disebutkan dan tentu caranya harus menyenangkan.

Seandainya para orang tua mengikuti seminar itu tentunya mereka akan sadar bahwa cara berfikirnya yang dianggap benar adalah salah. Menempatkan anak-anak mereka di TK/SD unggulan agar anaknya mahir dalam CALISTUNG merupakan langkah awal kegagalan pendidikan anak.

Siswa SD kelas awal yang dimaksud adalah siswa SD kelas 1-3. Coba simak penuturan Diah Hariati, MPsi (Ketua Pusat Kurikulum Balitbang DIKNAS) berikut: Yang paling penting bagi murid SD kelas awal adalah rasa aman dan siap bersekolah. Kegiatan harian siswa SD kelas awal sebaiknya lebih diarahkan pada pengembangan diri, bukan hal yang bersifat Skolastik. Skolastik yaitu kemampuan yang berhubungan dengan otak kiri (kemampuan logika dan bahasa).

Tetapi fakta dilapangan sungguh bertolak belakang. Banyak sekolah yang memaksa anak kelas 1-3 SD dengan berbagai kegiatan yang padat, panjang dan membosankan. Berbeda dengan negara maju yang menerapkan pembelajaran dengan model bermain yang menyenangkan.

Pada akhirnya jika bapak/ibu adalah para orang tua bijak yang perduli pada keberhasilan anak, tentu perlu renungan dalam menentukan masa depan anak tapi tanpa ada paksaan atau merenggut salah satu dari kebahagian mereka. Dengan mengesampingkan ego kita terlebih dahulu mudah-mudahan kita mampu menjadi orang tua yang baik dan bijaksana bagi putra-putri kita, Amin.

masa-anak.jpg

duniaanak.jpg


Responses

  1. Pendidikan Karakter sebagai Prioritas Pendidikan

    Tak dapat dipungkiri, sekolah memiliki pengaruh dan dampak terhadap karakter siswa, baik disengaja maupun tidak. Kenyataan ini menjadi entry point untuk menyatakan bahwa sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pendidikan moral dan pembentukan karakter. Selanjutnya para pakar pendidikan terutama pendidikan nilai, moral atau karakter, melihat hal itu bukan sekedar tugas dan tanggung jawab tetapi juga merupakan suatu usaha yang harus menjadi prioritas. Sudarminta misalnya, mencatat tidak kurang dari tiga alasan pentingnya pendidikan moral di sekolah; 1) bagi siswa sekolah dasar dan menengah, sekolah adalah tempat dalam proses pembiasaan diri, mengenal dan mematuhi aturan bersama dan proses pembentukan identitas diri, 2) sekolah adalah tempat sosialisasi ke dua setelah keluarga. Di tempat ini para siswa dirangsang pertumbuhan moralnya karena berhadapan dengan cara bernalar dan bertindak moral yang mungkin berbeda dengan apa yang selama ini dipelajari dari keluarga, 3) pendidikan di sekolah merupakan proses pembudayaan subyek didik. Maka sebagai proses pembudayaan seharusnya memuat pendidikan moral.[12]

    Sementara itu, Berkowitz dan Melinda menambahkan 3 alasan mendasar lainnya. 1) Secara faktual, disadari atau tidak, disengaja atau tidak, sekolah berpengaruh terhadap karakter siswa. 2) Secara politis, setiap negara mengharapkan warga negara yang memiliki karakter positif. Banyak hal yang berkaitan dengan kesuksesan pembangunan sebuah negara sangat bergantung pada karakter bangsanya. Demokrasi yang diperjuangkan di banyak negara, sukses dan gagalnya juga tergantung pada karakter warga negara. Di sinilah, sekolah harus berkontribusi terhadap pembentukan karakter agar bangsanya tetap survive. 3) Perkembangan mutakhir ternyata menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang efektif mampu mendorong dan meningkatkan pencapaian tujuan-tujuan akademik sekolah. Dengan kata lain, pendidikan karakter juga dapat meningkatkan pembelajaran.[13] Dapat ditambahkan di sini, bahwa fenomena pengasuhan dalam keluarga (parenting) sekarang ini banyak yang sudah menyalahi peran utama keluarga sebagai media sosialisasi utama yang mengenalkan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan kepada anak. Bermunculannya tempat penitipan anak (child care) misalnya, menunjukkan banyak keluarga yang sudah kehilangan waktu untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

    Argumen tajam lainnya disampaikan oleh Robert W. Howard. Menurutnya, sekalipun perdebatan seputar tujuan pendidikan tidak pernah berakhir, namun upaya mempersiapkan generasi baru dari warga negara merupakan suatu tujuan yang telah disepakati. Kewarganegaraan ini mempunyai dua dimensi politik dan sosial, yang keduanya menyatu dan terlibat dengan isu-isu moral. Tidaklah mungkin meninggalkan isu-isu moral ini di luar jangkauan sekolah. Sebagai konsekuensinya, pendidikan moral haruslah menjadi salah satu dari dua tujuan umum pedidikan; yang tujuan lainnya adalah mengajarkan kecerdasan dan kecakapan akademik (teaching academic content and skills).[14]

    Argumen-argumen di atas dengan jelas menunjukkan bahwa sekolah tidak dapat menghindar dari pendidikan karakter. Sekolah pun tidak dapat mengupayakan dan menerapkannya dengan tanpa kesungguhan. Sekolah harus meyikapi pendidikan karakter seserius sekolah menghadapi pendidikan akademik, karena sekolah yang hanya mendidik pemikiran tanpa mendidik moral adalah sekolah yang sedang mempersiapkan masyarakat yang berbahaya.[15] Kesimpulan serupa juga ditegaskan dalam Sister Mary Janet dan Ralp G. Chamberlin. Menurutnya, sekolah memiliki yang sangat signifikan dalam mengajarkan moral dan nilai-nilai agama.[16]

    Makalah oleh: Prof.,DR., H. Malik Fajar

  2. Bagaimana tuh dengan SDIT yang sekolah dari jam 7 pagi sampai jam 15 sore. Wah jadi kasihan anak2 kita ya..

    Kalau saya, ya kasihan banget anaknya. Karena sadar atau tidak kita telah merenggut kebahagiaan yang sejatinya harus dinikmati sang anak.

  3. Ini sebetulnya yang menjadi alasan utama mengapa saya menjadi pendukung berat pendekatan “Spider-Web” yang digagas oleh Bang Lendo Novo dan diterapkan di Sekolah Alam Ciganjur (www.sekolahalam.org), School of Universe Parung, Bogor (school-of-universe.com), Sekolah Alam Bandung (www.sekolahalambandung.com), Sekolah Alam Bojong Kulur, Cibubur, Bogor (sabkbogor.multiply.com), Sekolah Alam Cikeas, Bogor (www.sacikeas.com)

    Dengan pendekatan “Spider Web”, saya merasa jam belajar anak saya (sekarang SD kelas satu) sebetulnya sedikit (karena memang cukup banyak waktu bermain bebas🙂, tapi dia mendapat kurang lebih sama banyaknya atau malah kadang lebih banyak dari temannya yang bersekolah di SD lain.

    Konsep sekolah di alam secara nisbi mudah dan sudah banyak diterapkan juga oleh sekolah lain, namun pendekatan “Spider Web” yang sebetulnya menjadi pembeda utama.

    Apakah ada sekolah lain di luar kelompok Sekolah Alam yang menerapkan pendekatan “Spider Web” ?

  4. sekolah memang mahal ya ga sih??
    benar ga sih???

    Ya, benar tetapi sekolah mahal belum tentu berkualitas. Karena sekolah bukan satu-satunya tempat untuk memandaikan atau menfonis anak bodoh. Lingkungan dan keluarga juga sangat berperan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: