Oleh: sucihida | Januari 8, 2008

Tentang SBI

gedung-sd.jpg

Kuasai dunia dengan ilmu, IMTAQ dan ikuti kemajuan IPTEK.

Hampir delapan tahun aku bergelut didunia pendidikan

Hampir delapan tahun pula aku belajar dan mencari pengalaman berharga yang tidak mungkin kusia-siakan.

Hari ini aku masih tetap bersyukur karena sedikit ilmu yang kupunyai teramalkan.

SBI sungguh sekolah yang didambakan dan banyak pengajar ingin melamar untuk bergabung menjadi keluarga besar.

Namun ada hal yang merisaukanku sebagai pengajarnya,

Mengapa SBI harus identik dengan anak-anak yang pandai IQ atau Intelgensinyanya?

Mengapa orang memandang prestasi bakat minat dan pendidikan moral/sikap itu tidak terlalu penting di SBI?

Mengapa orang banyak beranggapan bahwa SBI adalah pendidikan yang berorientsi pada nilai dan harus melampaui sekolah-sekolah Negeri?

Dan mengapa mereka tidak cari tahu bahwa pembelajaran yang mulai dikembangkan disekolah-sekolah Bertaraf Intrnasional (pembelajaran berbasis proses), sudah mulai banyak dituru sekolah-sekolah negeri.

Sesaat aku berfikir……….

Ada team teaching, malah minta model guru kelas.

Padahal model guru kelas akan dihilangkan pada 2009 saat kuota guru SD mulai terpenuhi.

Adanya jam belajar yang disesuaikan dengan kemampuan Psikologi anak, malah minta ada jam tambahan untuk pelajaran NAS, (seperti fullday).

Yang jadi pertanyaan, pada dasarnya mereka tahu ga’ seperti apa dan bagaimana seharusnya memdidik anak! kalau emang belum tahu, paling tidak mau baca buku tentang cara dan seni mendidik anak yang benar. Atau lebih bagus lagi ikut seminar peran orang tua dalam mendidik anak (teaching and perenting). Biar tidak hanya mengkritik dan mengganggap pendapatnya/cara mendidiknya adalah benar.

Karena… tidak sedikit masyarakat yang masih kuat dengan paradigma kunonya dan memasukkan putra-putrinya di SBI sehingga mereka berkeinginan agar kurikulumnya bisa berubah sesuai keinginan mereka. Padahal tidak hanya SBI, banyak sekolah-sekolah yang mulai merubah paradigma kuno tersebut. Mengapa karana pendidikan kita tertinggal dari negara lain disebabkan oleh paradigma kuno tersebut. Tapi…………. jangan-jangan masyarakat banyak yang tidak tahu apa paradigma kuno itu!

Kalau mau tahu tunggu tulisanku tentang “paradigmaku,paradigmamu dan saat ini”

di sucihida.wordpress.com


Responses

  1. Mam, …. ngomong-ngomong nech email ku dah lama ga aku buka, tapi kan aq dah bikin wordpress, apa itu pengaruh ya bu ?

  2. SBI….mmmm….good idea…ada yang penting juga dari SBI…bani hasyim udah gunakan trilingual (bahasa arab, indonesia dan inggris)… perlu diterapikan juga tuh di modul dan bukunya, mungkin minimal dua bahasa atau kalo perlu tiga bahasa… apalagi PTK-nya…for this it must be trilingual i think…kan PTK (peradaban, teknologi dan kebudayaan) katanya simbol mata pelajaran paling canggih di dunia dan hanya dimiliki Bani Hasyim… ide “gila” lagi ni…🙂 …innallaha ma’ashshobiriin

  3. itu tadi salah kirim komentar… namanya itulo… kok langsung muncul bodong… harusnya ini….hehehehehe…..tolong diedit di comment-nya ya bu….jazzakumullah…thanks…matur nuwun…terima kasih…

  4. syaratnya jadi guru sd internasional ya harus bisa IT and gurunya juga menjadi teladan dong!!!!! ok….

  5. Teladan itu yang sulit, tidak semua guru bisa digugu dan ditiru. Sekarang apa yang perlu ditanamkan dulu kepada guru agar bisa jadi teladan, baru memberi teladan agar bisa tertanam pada diri santri.

    Setuju kan!?
    Trim’s atas komennya.

  6. Tentang guru, saya lebih suka kalau yang diterapkan untuk SD adalah pendekatan guru kelas, ditambah guru khusus untuk hal – hal tertentu. Di Sekolah Alam (SA), setiap kelas mempunyai sepasang guru kelas, satu laki – laki dan satu perempuan, jadi mereka diharapkan benar – benar menjadi bisa berperan pengganti orang tua selama jam sekolah.

    Mengenai pembelajaran berbasis proses individual dan bukan nilai, saya merasakan SA cukup tertib menerapkannya. Nilai diambil dari pengamatan guru selama satu kurun waktu, bukan hanya hasil ketika ujian. Dan sudah pasti di rapor anak saya tidak tertera ranking🙂.
    Saya pernah merasa malu ketika bertanya mengapa di SA tidak digalakkan keikutsertaan siswa pada kejuaraan. Mereka menjawab bahwa di SA, anak dididik untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri, sehingga berwatak tidak merasa puas jika tidak hari ini tidak lebih baik dari kemarin, namun juga tidak merasa rendah diri jika belum juara satu.

    Mengenai masukan siswanya, yang mau masuk diwajibkan “Sit-In” selama tiga hari. Namun ini bukan untuk seleksi atas dasar kemampuan siswa, melainkan hanya untuk menilai kesiapan anak dan yang lebih penting lagi kesiapan orang tua dalam menerima pendidikan model SA yang berbeda sekali dengan pendidikan “konvensional” ataupun “unggulan” lain lain.
    Jadi batasan yang diterapkan hanya berdasarkan Kuota, 20 siswa per kelas (1 guru banding 10 siswa).

    Satu lagi, SA justru sering menerima siswa pindahan yang “bermasalah” dan tidak diterima lagi di sekolah “umum”. Pendekatan SA terhadap yang bermasalah tergantung masukan dari Psikolog, tapi umumnya dimulai dari menumbuhkan minat belajar dan kemandirian.
    Ada cerita tentang seorang anak yang dipindahkan ke SA Bandung karena sudah mogok sekolah, hanya mau di rumah saja main game di komputer. Pada hari pertama si-X pindah, untuk mengajak si-X mau masuk, si-X dijemput oleh guru dan seluruh teman sekelasnya, dan komputer kesayangan si-X ikut dibawa ke sekolah🙂

    Kalau belum tahu tentang konsep Sekolah Alam, bisa melihat wawancara dengan penggagasnya yaitu Lendo Novo.
    (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/22/eko06.html)
    “Lendo Novo: Sekolah Harus Menyenangkan!”

    Yang suka pada konsep HomeSchooling, biasanya juga suka pada konsep Sekolah Alam, bahkan Indira salah satu aktivis Home Schooling menjulukinya sebagai Sekolah Impian (http://www.early-years-homeschool.com/sekolah-impian.html)

    Salah satu ulasan tentang Sekolah Alam bisa dibaca di Febi
    (http://just2b.blogspot.com/2005/04/ayosekolah.html)

    Kalau saya lihat cinderamata di lemari pajangannya, tampaknya sudah banyak sekolah atau lembaga yang melakukan kajian perbandingan ke Sekolah Alam.

    Memang Sekolah Alam juga menanamkan pemahaman konsep melalui proses dan pengamatan secara langsung, itupun kami lakukan dan masuk dalam kurikulum kami. Satu pelajaran ciri khas yang telah kami miliki berupa studi lapangan untuk pelajaran Peradaban Teknologi dan Kebudayaan yang merupakan integrasi dari seluruh mata pelajaran yang ada.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: