Oleh: sucihida | Januari 6, 2008

Sosok Guru atau Pengajar

guruku.jpg

Untukmu Yang merasa menjadi Guru …………………..

Wahai engkau yang memberi pengajaran kepada orang lain,

Tidaklah pengajaran itu juga layak menjadi akhlakmu juga???

Engkau membuatkan resep untukorang sakit penuh derita,

Sedang dirimu sendiri sakit merana

Kamu memperbaiki cara berpikir orang dengan bimbinganmu,

Tetapi mengapa engkau sendiri jauh dari bimbingan yang ada

Janganlah engkau melarang perbuatan yang jusrtu kau lakukan sendiri

Bila itu terjadi….. sungguh aib besarmu menjadi nyata

Mulailah dari diri sendiri, larang dirimu melakukan pelanggaran dan dosa.

Jikalau engkau berhasil meninggalkannya,

Sungguh engkau orang yang bijaksana

Dari situlah segala ucapanmu akan didengar dan diteladani,

Cukup dengan ucapan saja pengajaranmu akan menjadi berguna…….


Responses

  1. Alangkah indah syair-syair diatas, karena guru adalah orang yang digugu dan ditiru, maka seyogyanya bagi seorang guru untuk memperbiki prilakunya, jangan harap anak didiknya bisa berhasil didalam pembelajaran terutama didalam memperbaiki mental dan moral dimana pada saat ini adalah hal yang sangat kita butuhkan untuk memperbaiki negara kita yang hancur sebab bobroknya moral anak bangsa, apa manfaatnya jika kita mempunyai anak didik yang cerdas lagi pintar tetapi tidak diimbangi dengan akhlaq dan budi pekerti yang luhur, sedangkan apa yang dilakukan oleh seorang santri adalah apa yang mereka rekam dari tingkah laku dan gerak-gerik guru-guru mereka, ini sejalan dengan pepatah yang tidak asing lagi ditelinga kita ” ing ngarso sung tulado yang artinya guru memberi teladan yang baik, orang bijak telah berkata “lisanul hal afshahu min lisanil maqal” yang artinya “memberi teladan dengan tingkah laku itu lebih tajam dari pada cuma memberi nasehat” , tidak ada salahnya jika kita memperhatikan kembali sejarah rasul saw -ada pepatah yang mengatakan jika kita ingin berhasil maka kita harus kembali kepada sejarah- bagaimana beliau berhasil membangun peradaban dengan kaum yang sangat jahiliyah dan jauh dari kehidupan yang bermoral yang hanya membutuhkan waktu 23 th, itu semua tidak lain dan tak bukan karena beliau memberi tauladan yang baik kepada para pengikutnya dan tidak mengatakan sesuatu kecuali telah beliau kerjakan terlebih dahulu, wahai semua para pendidik marilah kita benahi diri kita sebelum kita memberi nasehat dan wejangan kepada anak didik kita agar kita memperoleh dan menggapai cita-cita suci kita. amin …

    Mudah-mudahan kita mampu menjadi seorang guru yang bisa menjadi teladan dan ilmu yang bermanfaat serta mau mendo’akan anak didik kita agar diberi kemudahan dan keberkahan dalam segala hal. Amin

  2. Ternyata jadi guru itu tidak mudah. karena gutu haris mampu menjadi teladan yang baik bagi semua anak didiknya.

  3. P. Syamsul
    Santri adalah bayang-bayang dan guru adalah batang sebuah pohon. Jika pohonnya bengkok, maka bengkok pula bayang-bayangnya. Manakala pohonnya tegak lurus, lurus pula bayang-bayangnya. Lidzalik, luruskan diri terlebih dahulu sebelum meluruskan orang lain. Dimulai dari menjernihkan hati dan mensujudkan pikiran kita, serta menghiasi af’al kita dengan khulukul mahmudah. Semoga semua upaya kita dalam memperbaiki diri, santri-santri kita selalu dilindungi oleh Allah SWT. Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: